Cara Cerdas Membuat Anak Jenius

Komentar

Share:facebook twitter gplus

| Oct 29, 2010 | Kategori Tips

Semua orangtua menginginkan buah hatinya memiliki kecerdasan maksimal serta mempunyai otak yang tergolong Jenius. Selama ini diyakini kecerdasan anak diperoleh dengan memaksimalkan fungsi otak kanan atau otak kiri. Ternyata, anak bisa menjadi lebih cerdas dengan mengoptimalkan seluruh bagian otak. Dengan melatih otak secara keseluruhan anak-anak akan lebih cerdas, inovatif, kreatif, serta intuitif.
Pelatihan optimalisasi seluruh bagian otak ini digaungkan oleh salah satu lembaga yang bergerak di bidang pengembangan otak melalui stimulasi otak, nama perusahaannya adalah PT. International Brain Stimulation (AIBIES). Mereka telah berhasil mestimulasi lebih dari 1000 anak yang ikut serta dalam pelatihannya hingga bulan Mei 2010.
“Kami menggunakan metode Interconnection Brain Stimulation dari hasil research mulai tahun 2002 dengan bendera Yayasan Neurosenso. Langkah pertamanya dengan melakukan assesment. Setelah itu, kami memberikan stimulasi otak anak seperti senam otak dan mindsound,” kata CEO AIBIES, Juni A.Dwi Utomo, saat melakukan pelatihan terhadap 40 anak berusia 3 sampai 12 tahun yang bertempat di Hotel Grand Palace Hotel, Yogyakarta, Minggu (9/5/2010).

“Stimulasi otak yang kami berikan adalah penyajian rangkaian produk dari hasil riset yang terbukti meningkatkan optimalisasi intelegensia yang menggunakan seluruh bagian otak secara maksimal”, demikian imbuh Juni. Pelatihan optimalisasi seluruh bagian otak ini telah terbukti membuat kecerdasan akademis anak meningkat. Karena metodenya yang unik dan menyenangkan, konsentrasi dan kepercayaan diri anak turut terasah.
Pelatihan yang dirancang oleh AIBIES dilakukan dengan proses berkelanjutan, memadukan dengan pola kecerdasan majemuk dan memiliki kurikulum cerdas yang berjenjang mengoptimalkan seluruh bagian otak secara permanen. Pelatihan untuk sementara masih bekisar diusia anak 3 sampai dengan 12 tahun. “Dalam waktu dekat, setidaknya Agustus 2010 kami akan megeluarkan program pelatihan untuk remaja dan orang tua”, semangat Juni.

Bonus tambahan AIBIES adalah teknik membaca dengan mata tertutup (blind ford reading). Selain itu ada juga program Blitz-Reading yaitu membaca secepat kilat. Teknik ini digunakan untuk membaca dengan kecepatan fantastik dalam hitungan selembar buku kurang dari sedetik, laiknya seperti memotret atau memfotocopy. Masih banyak program lain yang bakal digulirkan AIBIES, yang tak kalah unik adalah kemampuan berbicara berbahasa asing dalam tujuh kali pertemuan dengan durasi satu setengah jam per pertemuan.

Perusahaan AIBIES menggarap pelatihannya secara serius dengan menyertakan konsultan narasumber dr.Adre Maiza, Sp.S(K). Beliau adalah Kepala Peningkatan dan Pemeliharaan Kemampuan Inteligensia DEPKES RI. Selain itu, ada beberapa Profesor dan Doktor yang sesuai dengan bidang intelegensia.

Pelatihan optimalisasi seluruh bagian otak AIBIES diadakan periodikal setiap Sabtu dan Minggu di lima kota besar di Indonesia. Program berikutnya kembali diadakan pada 29 dan 30 Mei ini. Diharapkan setiap pekannya bertambah anak-anak jenius Indonesia. Info pelatihan dan pembukaan usaha (franchise) selengkapnya bisa menghubungi Setia di no hp 0817 411 9965.



Anak Cerdas Berawal dari Rumah
Anak belajar mengucapkan kata pertama, merangkak, berjalan hingga belajar sopan santun dan yang berkaitan dengan kecerdasan berawal dari rumah. Sebagai tokoh panutan utama, orangtua perlu memahami perkembangan otak si kecil.
Menurut dokter anak spesialis syaraf Fakultas Kedokteran Universitan Indonesia (FK-UI), Dr Dwi putro Widodo, SpA(K), proses perkembangan otak anak terbagi menjadi dua tahap yaitu pembentukan sinaps (koneksi) dan transmisi sel otak (komunikasi).
“Pada tahap pertama sel-sel otak membentuk sinaps, yaitu penghubung antara dua ujung sel-sel yang berbeda. Sedangkan tahap komunikasi adalah tahap dimana adanya penyampaian pesan antar sel otak. Fase ini adalah fase dimana proses pembelajaran dan daya ingat dimulai,” paparnya.
Untuk mengoptimalkan proses perkembangan otak anak itutidak cukup dengan nutrisi saja tapi juga stimulasi.Hal senada dituturkan Psikolog anak, Dr Rose Mini AP, Mpsi. Dia mengatakan, saat itu otak anak bagai spons baru yang mampu menyerap segala hal dengan cepat dan maksimal. “Untuk itu makin banyak pengalaman dan pembelajaran anak, maka makin banyak yang terserap dan anak akan tumbuh cerdas,” ungkap psikolog yang disapa mbak Romi itu.
Namun orang tua harus pandai mengaturnya, tidak asal-asalan sehingga anak dapat berkembang sesuai dengan kapasitasnya, lanjut Romi. Stimulus yang seimbang bagi otak kiri dan otak kanan akan membantu anak memiliki kemampuan yang seimbang juga antara kemampuan khas otak kiri dan kanan.

Bermain
Stimulus yang paling menyenangkan dan efektif bagi anak adalah dengan bermain. Dengan meluangkan waktu di tengah kesibukan orang tua dapat mengajak anak bermain, misalnya dengan bermain musik, bercerita atau melukis. Dengan melukis anak dapat mempelajari berbagai macam warna, sedangkan dengan bercerita atau membaca anak akan mempelajari banyak kosa kata.
“Biarkan anak memilih permainannya sendiri, dengan begitu anak akan mendapatkan berbagai pengalaman yang menarik rasa ingin tahunya,” imbuh Romi.
Berikan juga anak permainan yang dapat membantu memaksimalkan kemampuan otak dan pikiran seperti permainan yang dapat mengenalkan perbedaan dan klasifikasi. Permainan building blocks atau permainan yang melatih kemampuan emosional dan imajinasi seperti alat musik, permainan yang melatih kemampuan logis dan akal seperti puzzle serta permainan yang dapat melatih konsentrasi dan ingatannya.
Menstimulasi anak dengan bermain sangat menyenangkan dan dapat membantu orang tua melihat kecerdasan pada anak-anaknya. Kemampuan orang tua melihat potensi dan bakat anak sangatlah penting karena masing-masing anak memiliki jenis kecerdasan berbeda.
Sementara itu, Motivator Gobind Vashdev menegaskan pentingnya orang tua menyadari besarnya peran mereka bagi perkembangan anak, terutama untuk perkembangan otak.
Dia memaparkan, untuk mencapai hasil yang optimal, orang tua pun perlu mengenali kekuatan dan kelemahan masing-masing, agar saling melengkapi dan membantu dalam memberikan stimulasi pada anak. Orang tua juga wajib mencari tahu perkembangan terbaru tentang nutrisi dan stimulasi yang baik bagi perkembangan anak.